Cara Menyikapi Vaksinasi Covid

Cara Menyikapi Vaksinasi Covid

Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut , maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Seseorang juga bisa terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit. Jika merasa tidak sehat atau memiliki gejala demam, maka wargi sebaiknya tetap berkegiatan dari rumah. Karena di setiap kebiasaan baru, selalu ada harapan untuk keluarga dan kerabat agar tetap aman.

“Mari kita upayakan bersama bagaimana bisa mendorong lansia bisa lebih cepat disuntik agar kita dapat melindungi orang tua kita. Semakin cepat vaksinasi dilakukan, semakin cepat kita mencapai kekebalan komunal,” ujarnya. Menkes juga mendorong semua masyarakat untuk ikut menyosialisasikan pentingnya vaksinasi COVID-19, khususnya kepada kelompok masyarakat lanjut usia 60 tahun ke atas. Dari kelompok prioritas kedua, lansia masih rendah tingkat partisipasinya padahal kelompok ini paling rentan dibanding kelompok prioritas lain karena mudah sakit serta tingkat kematiannya tinggi.

Bagaimanapun, kita tidak bisa hanya dengan melakukan vaksinasi lalu berharap virus itu pergi. Yang harus dilakukan adalah kombinasi upaya vaksinasi dan membangun sistem kesehatan masyarakat yang baik. Pakar kesehatan yang juga mantan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim PhD menyatakan bahwa negara-negara di dunia harus lebih banyak berinvestasi dalam pengembangan sistem kesehatan masyarakat. Sudah banyak sekali negara-negara yang melakukan transaksi secara bilateral dengan perusahaan farmasi, khususnya negara-negara maju yang memiliki kemampuan untuk membeli secara langsung. Tapi tentu, dengan upaya bilateral atau yang seringkali disebut dengan isu nasionalisme vaksin cenderung memunculkan persoalan kesenjangan dengan negara-negara berkembang dan negara kurang berkembang akibat keterbatasan kemampuan pembiayaannya. Saat ini, sering kali kita mendengar klaim sepihak dari perusahaan farmasi yang berlomba untuk mengatakan bahwa vaksin temuannya sudah memiliki efektivitas hingga 90%.

Vaksin dapat menangani Covid

Dilansir dari Reuters, Kepala Divisi Infeksi Mukosa dan Imunitas di Imperial College London, Robin Shattock, mengatakan ilmuan telah melakukan serangkaian penelitian untuk menemukan vaksin virus corona. Sebagaimana dikutip dari DetikNews yang melansir Chinatopix by way of AP, staf medis di Wuhan, China, terus melakukan riset pengembangan vaksin virus corona jenis baru. Penelitian itu dilakukan dengan mengambil sampel tes asam nukleat dari pasien yang terinfeksi. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan Cermati.com berikut ini yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pemerintah Kota Pontianak mengalokasikan bantuan bagi nelayan dan petani yang gagal panen. “Bantuan tersebut subsidi budidaya ikan lele dan nila. Kemudian juga dibantu alat untuk budidaya peralatan,” imbuhnya. Maka dari itu, dirinya meminta bantuan dari anak muda agar mau mengajak orangtua, kakek, nenek, atau mertua agar mau divaksin.

Bagi yang sudah divaksinasi, jangan lupa untuk tetap menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin sampai kita benar-benar mencapai kekebalan kelompok dan terbebas dari pandemi,” tutup Menkes. Adapun tahapan prioritas vaksin ditujukan bagi tenaga kesehatan, orang lanjut usia , pelayanan publik termasuk tenaga guru, TNI dan Polri. Sementara itu, untuk ketersediaan stok vaksin Covid-19 dikatakannya masih mencukupi. Pengiriman vaksin dari pemerintah pusat sudah ada kuota yang dialokasikan untuk ASN, TNI, Polri, pelayanan publik dan lansia. Saya pikir uang yang digunakan untuk pekerja yang melakukan pelacakan kontak, vaksinasi, dan secara keseluruhan mendukung sistem kesehatan akan membantu Anda untuk menghadapi pandemi di masa depan. AS yang seharusnya memiliki sistem kesehatan yang maju terlambat mengani virus ini dan kini tinggal menunggu tercapainya kekebalan kelompok, apakah itu melalui vaksinasi atau dengan banyaknya warga yang terinveksi.

Data survei Kemenkes menunjukkan, terdapat 64,8 persen responden yang bersedia melakukan vaksinasi Covid-19. Tidak berhenti di sana, melalui media sosial, masyarakat masih banyak yang menampilkan respon antusias menanti vaksinasi. Survei tersebut menunjukkan bahwa optimisme serta tekad kuat dari publik untuk bangkit melawan Covid-19 masih sangat besar. Satu langkah awal yang diyakini mampu mengakhiri perjalanan panjang pandemi Covid-19. Para tenaga kesehatan juga dapat mengecek nama mereka di situs pedulilindungi.id.

Sedangkan, vaksin sendiri merupakan zat aktif pada virus atau bakteri yang dapat menimbulkan reaksi sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus atau penyakit tertentu. Kebanyakan vaksin dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara suntikan, tetapi ada pula yang diberikan melalui mulut , maupun semprotan ke hidung. Selain itu, terdapat pula istilah imunisasi yang berarti reaksi dari tubuh setelah mendapatkan vaksin. Dengan vaksinasi, diharapkan penyebaran virus penyebab Covid-19, yakni SARS-CoV-2, dapat dikurangi bahkan dihentikan sehingga akan terbentuk kekebalan kelompok atau sering disebut herd immunity. Kekebalan kelompok tersebut akan terbentuk ketika lebih dari 70 persen populasi telah divaksin. tirto.id – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 punya cara untuk menangani sekaligus memberikan edukasi kepada pihak-pihak yang masih meragukan vaksin dalam program vaksinasi yang sedang digalakkan pemerintah di tengah masa pandemi Corona.

Comments are closed.