Embargo Ancam Stok Vaksin Covid

Embargo Ancam Stok Vaksin Covid

Terkait dengan ketersediaan vaksin, pada 6 Desember 2020 Pemerintah mengumumkan bahwa sebanyak 1,2 juta dosis Vaksin Sinovac sudah sampai di Jakarta, dan sebanyak 1,8 juta dosis lainnya akan dikirimkan menyusul pada Januari 2021. Menanggapi hal ini Akademisi Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Ferdiansyah, menyampaikan bahwa seharusnya diplomasi yang dilakukan pemerintah terhadap vaksin menekankan pada diplomasi kemanusiaan. Model kerja sama South-south cooperation juga dapat didorong karena pada umumnya model kerja sama ini membangun solidaritas, ketimbang kompetisi yang dibawa oleh negara utara. Maka dari itu pilihan best untuk negara seperti Indonesia adalah jika proposal TRIPs Waiver bisa disepakati sehingga kita bisa punya kebijakan dengan memproduksi vaksin lokal. TRIPs Waiver dalam penanganan Covid-19 jika dapat di terima dan diimplementasikan ke negara anggotanya maka akan dapat mengatasi hambatan HAKI untuk memastikan distribusi yang adil, regulasi kebijakan, termasuk upaya untuk menurunkan harga. Ketentuan perlindungan HKI telah memonopoli pengetahuan yang dikontrol penuh oleh industri farmasi di negara maju.

Vaksin dapat menangani Covid

Dasar hukum inilah yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan diplomasi vaksin untuk percepatan dan kepastian pengadaan vaksin COVID-19 sesuai kebutuhan pemerintah. Sebagai gambaran, menurut data BPS, konsumsi rumah tangga dan investasi ini menyumbang 88,43 persen terhadap PDB. Data yang sama menunjukkan, di kuartal III/2020, investasi terkontraksi 6,forty eight persen yoy, namun lebih baik dari kuartal sebelumnya sebesar eight,61 persen yoy. Tak hanya itu, selain mengupayakan perbaikan terhadap konsumsi warga, pemerintah juga mesti mencari opsi lain untuk memulihkan ekonomi, salah satunya bisa lewat investasi. Sebagai catatan, indikator konsumsi ini penting lantaran berperan besar terhadap pembentukan pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB). Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang kuartal III/2020, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pembentukan PDB mencapai fifty seven persen.

Jadi, belum ada vaksin yang sudah disetujui dan diberikan izin oleh WHO untuk dapat digunakan oleh umum. Masalah ini telah dibahas oleh Indonesia for Global Justice bersama Indonesia AIDS Coalition dan Koalisi Obat Murah dalam diskusi daring yang bertajuk “Diplomasi Vaksin Covid-19 Indonesia” pada 12 November 2020. Para ilmuan dunia di berbagai negara terus berupaya mengembangkan vaksin virus corona jenis baru. Menurut pemberitaan Reuters, setidaknya ada belasan perusahaan farmasi dunia yang sedang melakukan penelitian penemuan vaksin virus ini dan obat untuk menyembuhkan korban yang terinfeksi. Saran terakhir yang diberikan Gates untuk perencanaan vaksinasi corona adalah memperkuat sistem kesehatan. Menurutnya, hal ini penting bahkan ketika dunia memiliki kapasitas produksi dan pendanaan yang sudah diatur.

Jadi kita harus melakukan vaksinasi, tapi sistem Kesehatan masyarakat juga harus diperhatikan. Masalahnya, seorang kawan saya yang pernah menangani wabah cacar menyatakan bahwa menurut laporan dari timnya, pada saat kelompok-kelompok kecil mencapai tingkat vaksinasi hingga 70-80%, kekebalan komunitas itu tidak terjadi, virusnya belum juga pergi. “kita tidak bisa hanya dengan melakukan vaksinasi lalu berharap virus itu pergi,” katanya dalam wawancara yang merupakan bagian dari DBS Asian Insight dan IDE Katadata 2021, Senin (22/three).

“Sebenarnya kita harus tahu vaksin itu terbuat dari apa, ada yang menggunakan kuman hidup yang sudah dilemahkan, seperti vaksin MMR, campak, gondong, rubella. Ada juga vaksin yang menggunakan kuman yang tidak aktif, seperti yang digunakan pada vaksin polio. Adalagi vaksin yang hanya menggunakan salah satu bagian dari virus seperti vaksin HPV. Vaksin yang dimasukkan ke tubuh itu hanya alat yang digunakan tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh jadi vaksin itu tidak dapat menyebabkan penyakit itu sendiri,” jelasnya. Dikatakan Reisa, hal penting dari persoalan vaksin ini adalah pemahaman terhadap istilah vaksin, vaksinasi dan imunisasi itu sendiri.

Selain biofarma, ada PT Biotis, Tempo Scan, dan Kalbe Farma berinvestasi untuk pengembangan vaksin. Selain ketiga cara utama di atas, ada beberapa metode baru yang digunakan beberapa perusahaan dalam ‘perlombaan’ membuat vaksin demi melawan Covid-19 ini. Johnson & Johnson menggunakan rekayasa genetik untuk memodifikasi adenovirus yang tidak berbahaya sehingga menyerupai SARS-CoV-2. Perusahaan Inovio mengembangkan vaksin DNA, sedangkan Moderna membuat vaksin mRNA.

Comments are closed.